Kamis, 09 Juni 2011

Bali Masa Prasejarah s/d Masa Bali Kuno

1.  BALI PADA MASA BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN  ( 3000 SM )

“Pulau Bali sekitar satu juta tahun yang lalu, diperkirakan telah dihuni oleh manusia purba yang disebut Homo Erektus. Manusia purba memiliki pola hidup yang berpindah - pindah (nomaden) dari satu tempat ke tempat yang banyak terdapat sumber makanan serta sumber mata air.  Perkiraan jaman purba tersebut didasarkan pula pada penemuan alat palaeolithik yang banyak di temukan di daerah Batur, kintamani, Bangli, Desa Trunyan dan Desa Sembiran, Buleleng, seperti: Kapak Genggam (hand Axe), Kapak Perimbas (Chopper), Kapak Penetak (Chopping), Serpih (Flakes), Bilah (Blade), yang terbuat dari batuan silica yang bersifat keras dan tajam. Alat lainnya juga ada yang terbuat dari tanduk dan tulang binatang, seperti lancipan dan sudip.”

2.     BALI PADA MASA PERUNDAGIAN ( 2000 SM )

“Masa perundagian diperkirakan diawali sekitar 2500 tahun yang lalu. Ciri-ciri utama pada masa ini adalah mereka telah hidup menetap (settledown). Salah satu contoh penting peninggalan dari masa perundagian ditandai dengan teknologi pembuatan tembikar tanah liat dan teknologi melebur logam. Kehidupan mereka lebih teratur karena mulai dikenal system pembagian tugas dalam masyarakat. Yang paling penting pada masa ini adalah di temukannya Nekara Perunggu yang tersimpan di Pura Penataran Sasih Desa Pejeng Gianyar dengan panjang 1,86 meter dan diameter 1,60 meter dan yang terbesar di Asia Tenggara. Fungsi nekara tersebut adalah alat upacara untuk memanggil hujan.”
   
3.     STUPIKA DAN PRASASTI SUKAWANA ( 778 M )

“Penemuan stupika tanah liat yang berisi mantra – mantra Budha di temukan sekitar Desa Pejeng  Bedulu Gianyar. Berdasarkan perbandingan isi mantra dan bentuk aksara dapat di perkirakan bahwa peninggalan ini sejaman dengan tulisan mantra serupa yang tertera di ambang pintu Candi Kalasan yang berasal dari tahun 778 masehi. Data ini diperkuat dengan ditemukan prasasti berbahan tembaga yang berangka tahun caka 804 (882 masehi) yaitu Prasasti Yumopakatao yang berisi perintah para pemimpin masyarakat kepada alim ulama agama Budha untuk mendirikan bangunan-bangunan suci keagamaan. Prasasti ini sekarang tersimpan di Pura Desa, Desa Sukawana Kintamani Bangli”.

4.     RSI MARKANDEYA ( ABAD 8 MASEHI )
                                              
“Rsi Markandeya adalah seorang pertapa dari Pegunungan Dieng, Jawa Tengah yang memperoleh petunjuk untuk melakukan perjalanan suci ke arah timur. Setelah sampai di Gunung Raung, Pegunungan Ijen, Jember Jatim, Beliau membangun tempat suci. Dari Gunung Raung beliau mengajak 800 orang pengikut menuju Bali Dwipa.Setelah sampai di desa Taro Gianyar, beliau membangun Pura Gunung Raung/Pura Murwa, beliau juga melepas sapi putih yang di bawa dari Jawa untuk di kembangbiakkan. Dalam expedisi pertama tersebut banyak pengikut Rsi Markandeya yang sakit dan meninggal, kemudian beliau kembali ke Jawa Dwipa. Pada ekspedisi kedua dengan kurang lebih 400 orang pengiring, Beliau sampai pada suatu tempat berupa batu berundak di lereng Gunung Tolengkir/Gunung Agung. Pada saat meditasi, Beliau mendapat petunjuk bahwa untuk menghindarkan para pengikutnya dari petaka, maka Rsi Markandeya membuat tugu dengan menanam Panca Datu atau  5 jenis logam yaitu  emas, perak, besi, kuningan dan tembaga disertai upacara korban suci/Butha Yadnya. Tempat tersebut di bangun pura dan diberi nama Besukih atau Besukian yang artinya Tempat Suci”.

5.     SRI KESARI WARMADEWA ( 914 M )

“Sri Kesari  Warmadewa adalah salah satu generasi Dinasti Warmadewa bergelar Adipati yang memerintah Bali pada 914 masehi. Dalam Prasasti Blanjong menyebutkan kemenangan Sri Kesari dalam menghadapi musuh di daerah Gurun dan Suwal. Untuk memperingati kemenangan itu, Beliau mendirikan 2 Tugu Kemenangan yaitu di Desa Blanjong, Sanur, Denpasar dan Pura Puseh Malet Gede, Desa Penempahan, Tampak Siring Gianyar. Disamping tempat-tempat suci sebagai penjaga pintu mata angin yang disebut Catur Loka Pala serta pada saat itu juga dibina Pura lainnya yang tersebar di Bali. ” 

6.    GUNAPRIYA DHARMAPATNI DAN SUAMINYA DHARMODAYANA WARMADEWA ( 986-1011 M )

“Mahendradatta adalah putri Raja Makutawangsawardana dari kerajaan Galuh Jawa Timur, Perkawinannya dengan Raja Udayana dari Wangsa Warmadewa di Bali melahirkan Airlangga, Marakata pangkaja, dan Anak Wungsu. Pada masa Raja ini kehidupan ketatanegaraan berlangsung tentram dan aman. Bidang arsitektur, sastra, bahasa kawi,   pustaka,   hukum,   peraturan    hukum pewarisan perpajakan, peraturan pengembalaan ternak (kuda) disalin ke dalam bahasa jawa kuno (kawi) dengan menyesuaikan peraturan yang berlaku di Jawa Timur. Untuk memasyarakatkan peraturan dilakukan dengan perantara Wayang. Bidang Keagamaan juga berkembang dengan mengangkat penasehat Raja yaitu Agama Siwa dan Budha. Pada tahun 1007 Masehi, Gunapriya Dharmapatni mangkat dan dicandikan di Desa Buruan Gianyar. Pemerintahan dilanjutkan oleh Raja Udayana hingga mangkat tahun 1011 masehi”.

7.     KONSEP KAHYANGAN TIGA DARI EMPU KUTURAN ( ABAD 11 M )

“Mpu Kuturan adalah seorang pendeta dari Jawa Timur yang datang ke Bali pada masa pemerintahan Sri Ratu Gunapriya Dharmapatni. Beliau diangkat menjadi pendeta istana sekaligus sebagai senopati dan penasehat di bidang ketatanegaraan. Di bidang keagamaan dan adat istiadat, dalam pesamuan (pertemuan) yang diselenggarakan pada sebuah tempat di Desa Bedulu, Gianyar yang kini disebut Pura Samuan Tiga, Mpu Kuturan memperkenalkan Konsep Kahyangan Tiga dan Paham Tri Murti yang menyatukan berbagai aliran agama atau sekte-sekte yang ada pada waktu itu. Beliau menata kembali konsep kesempurnaan bangunan pemujaan dari tingkat keluarga, desa, jagat. Dari kecemerlangan Beliau saat ini kita mengenal Pura Kahyangan Tiga sebagai tempat pemujaan Tri Murti, yaitu: Pura Desa sebagai stana Dewa Brahma (Pencipta), Pura Puseh sebagai Stana Dewa Wisnu (Pemelihara), Pura Dalem sebagai Stana Dewa Siwa (Pelebur)”.

8.     KEHIDUPAN BANJAR ( ABAD  11 M )

“Sejak pemerintahan Raja Ugrasena dari Wangsa Warmadewa di Bali, setiap warga mempunyai fungsi dan kewajiban masing - masing yang menjadi ikatan tanggung jawab terhadap banjar maupun kerajaan. Pada masa pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir dari Puri Swecapura di Gelgel, penataan kehidupan banjar ini semakin ditingkatkan. Agar rasa kesatuan dan persatuan warga masyarakat terbina,setiap bulan diselenggarakan Paruman Agung para Prajuru Banjar dengan memperbincangkan masalah adat dan kesejahteraan anggotanya. Paruman Agung ini mula-mula diselenggarakan di Pura Besakih. Setelah Pura Dasar Buana dibangun di Gelgel, kegiatan paruman dilangsungkan di Pura ini”.

9.     SISTEM SUBAK ( ABAD 11 M )

    “Sekitar abad ke-11 Masehi, Sri Aji Anak Wungsu menggantikan Marakata Pangkaja, Beliau melanjutkan sistem ketatanegaraan dan kehidupan masyarakat dari para pendahulunya. Tanah atau lahan pekraman di bagi-bagikan kepada rakyat. Hutan dibuka untuk dijadikan sawah dan ladang. Pada jaman ini pula sistem subak diperkenalkan dengan membangun bendungan sederhana (empelan), saluran air (telabah), terowongan (aungan), serta peraturan-peraturan (awig-awig) baik yang berkaitan dengan distribusi air, kewajiban – kewajiban (ayahan) maupun sanksi. Pada masa ini pula dibangun percandian Gunung Kawi di Tampak Siring Gianyar”.

10.      SRI ASTA SURA RATNA BUMI BANTEN (TAHUN 1338 M )

“Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten atau Sri Gajah Waktra atau Sri Dalem Bedahulu adalah generasi terakhir dari Raja-Raja Bali Aga yang memerintah di Istana Singhamandawa di sekitar Desa Pejeng Gianyar. Pada masa pemerintahannya, Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten giat membangun tempat-tempat pertapaan. Di bidang politik, Baginda memberi otonomi kepada desa-desa untuk mengurus kehidupan rakyat pada wilayahnya masing-masing. Sedangkan desa dan rakyat yang diberi kepercayaan memelihara tempat-tempat atau bangunan suci dibebaskan dari kewajiban membayar pajak atau iuran lainnya. Raja ini didampingi oleh para Patih beliau yang mumpuni, yaitu: Ki Pasung Grigis, Ki Kebo Iwa, Tumenggung Si Gudug Basur, Tumenggung Ki Kala Gemet dan lainnya. Tetapi dengan kedatangan Mahapatih Gajah Mada dalam rangka menyatukan NUSANTARA dalam wilayah Majapahit, maka periode ini menjadi masa transisi dari peradaban Bali Kuno ke Bali Madya”.  

Tidak ada komentar: